Beranda > Hindu (3^~) > Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha

Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha

Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha

Pada zaman dahulu di daerah Majjhima (daerah tengah dari Jambudipa), suku Bangsa Ariyaka yang datang dari utara Pegunungan Himava (Himalaya) membentuk sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sakya. Kata Sakya diambil karena pada saat itu banyak sekali Hutan Pohon Sakka di sekitar daerah tersebut. Suatu masa tibalah masa kepemerintahan bagi Raja Okkaka di kerajaan tersebut. Beliau memiliki 4 orang Pangeran (Okkamukha, Karanda, Hatthinika dan Sinipura) serta 5 orang Putri. Pada suatu hari, Ratu (istri Raja Okkaka, yang juga masih saudara kandungnya) meninggal dunia. Kemudian Raja menikah lagi dengan seorang gadis yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Raja sangat gembira, sehingga Beliau melepaskan kata-kata yang menjadi bumerang baginya sendiri. Raja mengucapkan janji kepada Ratu (istri Raja Okkaka yang baru) bahwa beliau akan meluluskan semua permintaan Ratu. Dalam kesempatan itu, Ratu memohon kepada Raja agar anak laki-lakinya diangkat menjadi Putra Mahkota (pewaris kerajaan). Mendengar permohonan Ratu itu, Raja Okkaka menjadi kaget dan menolak untuk meluluskannya. Namun Ratu terus merengek dan mengingatkan Raja akan janjinya yang pernah beliau ucapkan. Karena malu, maka Raja pun akhirnya meluluskan permohonan Ratu tersebut.

Raja Okkaka kemudian memanggil keempat Pangeran dan memerintahkan mereka untuk membawa semua saudari kandung mereka untuk pergi ke suatu daerah lain dan membangun negeri baru. Keempat Pangeran beserta kelima Putri kemudian mohon diri dari Ayahandanya, dan bersama rombongan dalam jumlah yang besar, mereka pergi ke sebuah hutan lain yang banyak ditumbuhi Pohon Sakka, di lereng Gunung Himalaya. Di dekat daerah tersebut ada seorang petapa bernama Kapila yang tinggal di sana. Karena itulah, maka kota yang dibangun itu diberi nama Kapilavatthu (vatthu = tempat). Di kerajaan itulah, mereka menikah di antara sesama saudara, kecuali Putri yang tertua menikah dengan Raja dari Devadha. Empat pasangan yang pertama merupakan leluhur dari Kerajaan Suku Sakya, dan satu pasangan lainnya merupakan leluhur dari Kerajaan Koliya.

Pada suatu waktu ketika Raja Jayasena memerintah di Kapilavatthu, beliau memiliki seorang Pangeran bernama Sihahanu dan seorang Putri bernama Yasodhara. Setelah Raja Jayasena meninggal, Pangeran Sihahanu menjadi Raja di Kapilavatthu dan menikah dengan Putri Kancana, yaitu adik dari Raja Anjana (Kerajaan Devadha). Mereka memiliki lima orang Pangeran yang diberi nama Suddhodana, Sukkodhana, Amitodhana, Dhotodana dan Ghanitodana serta dua orang Putri yang diberi nama Pamita dan Amita. Adik dari Raja Sihahanu, yaitu Putri Yasodhara, menikah dengan Raja Anjana dari Devadha dan memiliki dua orang Pangeran yang diberi nama Suppabuddha dan Dandapani serta dua orang Putri yang diberi nama Maya dan Pajapati (Gotami).

Setelah Raja Sihahanu mangkat, Pangeran Suddhodana pun naik tahta dan menikahi Putri Maya. Adik Raja Suddhodana yang bernama Sukkodana, kemudian menikah dan mempunyai putra yang bernama Ananda. Amitodhana mempunyai dua orang putra yang bernama Mahanama dan Anurudha, serta seorang putri bernama Rohini. Sedangkan adik perempuannya yang bernama Amita, menikah dan mempunyai seorang putra bernama Devadatta dan seorang putri yang bernama Yasodhara.

Lahirnya Pangeran Siddhattha Gotama

Meski Raja Suddhodana dan Ratu Maya sudah lama menikah, namun mereka masih belum mendapatkan keturunan. Suatu masa ketika Ratu Maya berusia 45 tahun, Ratu mengikuti perayaan Asadha yang berlangsung tujuh hari lamanya. Setelah perayaan selesai, Ratu kemudian mandi dengan air wangi dan setelah itu ia mengucapkan janji Uposatha. Selanjutnya ia pun pergi beristirahat di kamarnya. Dalam tidurnya, Ratu Maya bermimpi bahwa ada empat orang Dewa Agung yang mengantarnya ke Gunung Himalaya, kemudian membawanya ke Pohon Sala di Lereng Manosilatala. Lalu para istri dari Dewa-dewa Agung tersebut memandikannya di Danau Anotta, menggosoknya dengan minyak wangi dan kemudian memakaikan pakaian para dewata pada Ratu Maya. Ratu kemudian diajak ke istana emas dan direbahkan di atas dipan yang mewah. Di tempat itulah seekor gajah putih dengan membawa sekuntum bunga teratai di belalainya memasuki kamar, kemudian mengelilingi dipan sebanyak tiga kali untuk selanjutnya memasuki perut Ratu Maya dari sebelah kanan. Setelah itu Ratu Maya terbangun dan tiba-tiba terjadilah sebuah gempa bumi yang singkat. Ratu Maya segera bergegas memberitahukan hal ini ke Raja Suddhodana. Para Brahmana pun dipanggil untuk memberi petunjuk akan mimpi tersebut. Setelah menganalisa mimpi ini, para Brahmana meramalkan jika Ratu Maya akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak bisa menjadi seorang Cakkavatti (Raja dari semua raja di dunia) atau seorang Buddha (seorang yang mencapai Pencerahan Sempurna). Dan memang tidak lama kemudian, Ratu Maya menyadari bahwa ia sedang hamil. Ratu pun dapat merasakan keberadaan sang bayi yang tumbuh makin besar di dalam rahimnya dalam posisi duduk bermeditasi dengan posisi muka menghadap ke depan.


Ratu Maha Maya bermimpi tentang seekor gajah putih

Sepuluh bulan (Penanggalan Candra Sengkala) kemudian, di Bulan Vaisak, Ratu Maya mohon izin dari Raja Suddhodana untuk dapat bersalin di rumah ibunya (di Kerajaan Devadha). Dalam perjalanannya itu, Ratu Maya beserta seluruh rombongan tiba di Taman Lumbini (sekarang bernama Rumminde di Pejwar, Nepal). Di taman itu, mereka berhenti dan Ratu Maya pun beristirahat. Ratu Maya berjalan-jalan di taman itu dan berhenti di bawah Pohon Sala. Pada saat itulah Ratu Maya merasa akan segera melahirkan. Maka dengan cepat para dayang membuat tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada dahan Pohon Sala, dan dalam sikap berdiri seperti itulah Ratu Maya melahirkan seorang bayi laki-laki. Kejadian itu terjadi tepat pada purnamasidhi (Bulan Purnama yang bulat sempurna) di Bulan Vaisak pada tahun 623 SM. Sekali lagi terjadilah gempa bumi dashyat yang singkat. Empat Maha Brahma menerima sang bayi dengan jala emas. Para Dewa turut bergembira atas kelahiran sang bayi, meski mereka semua tidak dapat terlihat oleh mata manusia biasa. Kemudian dari langit turun air dingin dan panas untuk memandikan sang bayi sehingga menjadi segar. Sang bayi sendiri juga sudah bersih karena tidak ada darah atau noda lain yang melekat pada tubuhnya ketika dilahirkan. Bayi itu kemudian berdiri tegak dan berjalan tujuh langkah di atas tujuh kuntum bunga teratai ke arah utara. Setelah itu, sang bayi pun kemudian berbicara :

“Aggo ‘ham asmi lokassa,
jettho ‘ham asmi lokassa,
settho ‘ham asmi lokassa,
ayam antima jati,
natthi dani punabbhavo”

Yang artinya :

“Akulah Pemimpin dalam dunia ini,
Akulah Tertua dalam dunia ini,
Akulah Teragung dalam dunia ini,
inilah kelahiranku yang terakhir kali,
tak akan ada tumimbal lahir lagi”


Kelahiran Pangeran Siddhattha di Taman Lumbini

Pada masa itu, ada seorang petapa bernama Asita (yang juga dikenal sebagai Kaladevala) yang berdiam di Gunung Himalaya. Ketika sedang bermeditasi, ia diberitahukan oleh para dewa dari Alam Tavatimsa, bahwa telah lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Buddha. Maka pada hari itu juga, Petapa Asita pun berkunjung ke istana Raja Suddhodana untuk melihat bayi tersebut. Setelah melihat sang bayi, Petapa Asita melihat adanya 32 tanda luar biasa di bayi itu. 32 tanda (Mahapurissa) tersebut adalah :1.   Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
2.   Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3.   Tumit yang bagus (ayatapanhi).
4.   Jari-jari panjang (digha-anguli).
5.   Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
6.   Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
7.   Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
8.   Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi).
9.   Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno).
12. Kulitnya sangat lembut dan halus, sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit.
13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan Pohon Nigroda (beringin).
20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
21. Indria perasa sangat peka (rasaggasaggi).
22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
24. Gigi-gigi yang sama rata (sama-danto).
25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
27. Lidah sangat panjang (pahuta-jivha).
28. Suara bagaikan suara brahma, seperti suara Burung Karavika.
29. Mata biru (abhinila netto).
30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
31. Di antara alis-alis mata, tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).

Setelah melihat sang bayi, Petapa Asita kemudian memberi hormat kepada bayi tersebut. Hal ini juga diikuti oleh Raja Suddhodana. Setelah memberi hormat, Petapa Asita kemudian tertawa gembira, namun kemudian menangis. Petapa Asita kemudian menjelaskan bahwa sang bayi kelak akan menjadi Buddha. Namun karena saat ini Petapa Asita sudah berusia lanjut, maka ia menjadi sedih karena mungkin ia tidak bisa menunggu sampai bayi itu kelak menjadi dewasa dan memberikan ajarannya. Petapa Asita juga mengatakan bahwa Pangeran kelak akan meninggalkan istana untuk pergi bertapa, jika setelah melihat empat peristiwa, yaitu:
1. Orang tua (lanjut usia).
2. Orang sakit.
3. Orang mati.
4. Petapa yang tenang indrianya.

Pada hari yang sama dengan kelahiran sang bayi itu, ada 7 peristiwa penting lainnya yang juga terjadi di sekitar Kerajaan Sakka, yaitu:
1. Kelahiran Putri Yasodhara, anak dari Amita (adik perempuan dari Raja Suddhodana).
2. Kelahiran Pangeran Ananda dari Sukkodana (adik laki-laki dari Raja Suddhodana).
3. Kelahiran Kanthaka, seekor kuda putih di istana.
4. Kelahiran Channa, seorang anak dari orang dalam istana.
5. Kelahiran Kaludayi, seorang anak dari orang dalam istana.
6. Tumbuhnya Pohon Bodhi (dalam Bahasa Latin disebut Ficus Religiosa).
7. Munculnya Nihikumbhi (kendi untuk tempat penyimpanan harta pusaka) ke permukaan tanah.

Lima hari setelah kelahiran sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak keluarganya bersama 108 orang Brahmana untuk berpesta dan merayakan kelahiran anak pertamanya. Di antara para Brahmana, ada 8 orang yang mahir dalam meramal nasib, yaitu: Rama, Dhaja, Lakkhana, Manti, Kondanna, Bhoja, Suyama dan Sudatta. Semuanya meramal jika kelak sang bayi akan menjadi seorang Cakkavati (Raja dari semua raja di dunia) atau menjadi Buddha. Tapi hanya Kondanna (Brahmana termuda) yang dengan tegas mengatakan bahwa sang bayi kelak pasti akan menjadi Buddha. Karena itulah, maka nama yang diberikan kepada sang bayi adalah “Siddhattha”, yang berarti “tercapailah segala cita-citanya”. Karena terlahir dari keluarga Gotama, maka nama lengkap dari bayi itu adalah Siddhattha Gotama (Sanskrit: सिद्धार्थ गौतम). Tujuh hari setelah Pangeran Siddhattha dilahirkan, Ratu Maya meninggal dunia dengan tenang dan bertumimbal lahir di Alam Deva Tavatimsa. Pangeran Siddhattha kemudian dirawat oleh Putri Pajapati (adik kandung Ratu Maya), yang akhirnya dinikahi oleh Raja Suddhodana. Dari pernikahan ini, lahirlah seorang putra bernama Nanda dan seorang putri bernama Rupananda.

Kisah masa kanak-kanak Pangeran Siddhattha

Ketika Pangeran Siddhattha menginjak usia kanak-kanak, Raja Suddhodana mengajaknya ke perayaan membajak yang sudah menjadi tradisi Kerajaan Sakka. Raja juga turut membajak bersama para petani dengan memakai alat bajak yang terbuat dari emas. Perayaan berlangsung sangat menarik, sehingga para dayang yang bertugas untuk menjaga Pangeran Siddhattha malah meninggalkannya. Di sana, Pangeran kecil pun melihat satu fenomena kehidupan yang cukup membuatnya heran. Di sana Pangeran melihat seekor cacing yang dimakan oleh seeokor katak, kemudian katak itu dimangsa oleh seekor ular, dan kemudian ular itu diterkam oleh seekor burung untuk kemudian dimakannya. Pangeran pun tertegun dengan kejadian itu. Dalam benaknya, ia berpikir bahwa kebahagiaan di kehidupan hanyalah sementara, karena kelak akan tiba saatnya menderita. Pangeran juga merasa heran kenapa banyak makhluk yang harus menderita seperti ini, dan terus menjalani kehidupan yang penuh dengan rasa ketakutan dan kesenangan semu. Pangeran lalu merenungkannya di bawah pohon jambu pada tengah hari saat itu. Ketika para dayang kembali, mereka terheran melihat Pangeran Siddhattha sedang duduk bersila dan tidak menghiraukan sekelilingnya. Mereka lantas melaporkan hal ini kepada Raja. Raja Suddhodana pun lekas menengok putranya bersama semua orang di perayaan itu. Raja Suddhodana dan orang-orang pun terheran ketika melihat Pangeran Siddhattha. Mereka juga melihat keajaiban, dimana jatuhnya bayangan pohon jambu tidak mengikuti arah sinar matahari, namun tetap memayungi Pangeran Siddhattha yang sedang bermeditasi. Melihat kejadian ini, untuk kedua kalinya Raja Suddhodana memberi hormat kepada anaknya.


Pangeran Siddhattha Kecil duduk bersila di bawah pohon jambu

Ketika Pangeran berusia tujuh tahun, Raja memerintahkan untuk membuat tiga buah kolam di halaman istana untuk ditanami Bunga Teratai. Satu kolam ditanami bunga teratai berwarna biru (Upalla), satu kolam ditanami bunga teratai berwarna merah (Paduma), dan kolam lainnya dengan bunga teratai berwarna putih (Pundarika). Raja juga memesan wewangian, pakaian, dan tutup kepala dari Negeri Kasi, yang waktu itu merupakan negeri penghasil barang bermutu tinggi. Pelayan-pelayan diperintahkan untuk melindungi Pangeran Siddhattha dengan sebuah payung yang indah kemanapun Pangeran pergi, baik siang maupun malam sebagai lambang keagungannya. Setelah usianya cukup, Pangeran Siddhattha pun dibawa pada seorang guru bernama Visvamitta. Pangeran diberikan pelajaran berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddhattha dapat memahami semua pelajaran dalam waktu yang singkat, sehingga tidak ada lagi yang dapat diajarkan kepadanya.

Sejak kecil, Pangeran Siddhattha mempunyai rasa welas asih yang tinggi kepada semua makhluk. Pangeran sering bermain di taman dan memberikan makanan kepada berbagai jenis hewan. Pada suatu hari, Pangeran Siddhattha berjalan di taman bersama dengan saudara sepupunya yang bernama Devadatta. Devadatta melihat serombongan belibis terbang. Dengan segera ia mengambil busur dan kemudian memanah ke serombongan belibis tersebut. Anak panahnya tepat mengenai salah satu belibis itu. Pangeran Siddhattha kemudian langsung menghampiri tempat belibis itu jatuh, dan kemudian dengan hati-hati mencabut anak panah yang menancap di sayap belibis itu. Pangeran lalu meremas beberapa lembar daun untuk mengobati belibis itu. Devadatta mendesak Pangeran Siddhattha untuk menyerahkan belibis itu, namun Pangeran Siddhattha menolaknya. Perkara ini kemudian dibawa ke tempat Dewan Para Bijaksana. Di sana dibuat satu keputusan yang mengesahkan Pangeran Siddhattha berhak atas belibis tersebut, karena atas dasar pemikiran bahwa hidup adalah milik orang yang berusaha mempertahankannya, bukan milik orang yang berusaha menghancurkannya.


Pangeran Siddhattha menyelamatkan seekor belibis yang dipanah oleh Devadatta

Pangeran Siddhattha menikmati kehidupan sebagai Putra Mahkota

Saat Pangeran berusia 16 tahun, Raja Suddhodana membangun tiga istana super mewah untuk Pangeran Siddhattha. Satu istana untuk musim dingin (Ramma), satu istana untuk musim panas (Suramma) dan satu istana untuk musim hujan (Subha). Raja Suddhodana lalu mengirimkan undangan kepada para orangtua yang mempunyai anak gadis untuk mengirimkan anak gadisnya ke pesta, dimana Pangeran akan memilih seorang gadis untuk dijadikan istrinya. Namun semua orangtua itu tidak mempedulikannya. Mereka menganggap Pangeran Siddhattha adalah seorang yang tidak mempunyai bakat kesenian maupun ilmu peperangan. Sugesti itu menciptakan persepsi bahwa Pangeran Siddhattha mungkin kelak tidak bisa melindungi istrinya. Ketika Pangeran mengetahui hal ini, Pangeran pun memohon kepada Raja Suddhodana untuk mengadakan satu sayembara yang mempertandingkan berbagai ilmu kesenian dan ilmu peperangan. Semua tamu undangan yang sebelumnya pun dipanggil kembali; beserta semua anak laki-laki dan pangeran-pangeran dari negeri lain, turut memeriahkan sayembara itu. Dalam kontes bakat seni, ternyata Pangeran Siddhattha berhasil menujukkan bakat seninya. Salah satunya adalah menciptakan pantun. Dalam berbagai ilmu peperangan, misalnya menjinakkan kuda liar, menggunakan pedang, hingga bertarung; Pangeran Siddhattha juga menunjukkan kehebatannya. Khusus dalam menggunakan busur panah, Pangeran Siddhattha dipastikan menang telak. Semua orang tidak bisa membentangkan busur tersebut, karena busur itu sangat besar dan berat. Namun Pangeran Siddhattha dapat menggunakannya dan berhasil melepaskan anak panah yang menembus batang Pohon Tala. Setelah menunjukkan semua kehebatannya, semua hadirin sangat kagum pada Pangeran Siddhattha. Di antara kurang lebih 40.000 gadis cantik, Pangeran Siddhattha menjatuhkan pilihannya pada gadis yang bernama Yasodhara, yang merupakan sepupunya (adik kandung Devadatta, anak dari Bibi Amita). Pada penutupan acara, Devadatta mempertunjukkan kekuatannya dengan menantang seekor gajah liar. Gajah jantan yang besar itu dibunuh Devadatta hanya dengan sekali pukul dan sekali tendang. Pangeran Siddhattha sangat iba melihat hal ini. Kemudian ia sendiri menyeret mayat gajah itu dengan kakinya sampai sejauh 8 yojana (1 yojana = 8 mil), untuk kemudian dikuburnya.


Pangeran Siddhattha memeragakan keterampilannya dalam seni memanah

Setelah Pangeran Siddhattha menikah dengan Putri Yasodhara, kekhawatiran Raja Suddhodana menjadi berkurang. Dengan pernikahan ini, Raja berharap agar Pangeran lebih diikatkan kepada hal-hal duniawi. Selanjutnya Raja masih harus tetap menjaga Pangeran agar tidak melihat empat peristiwa, supaya Pangeran kelak tidak akan pergi dari istana untuk bertapa. Sejak kecil sampai sekarang, Pangeran tidak pernah diizinkan berjalan-jalan di kota yang penuh dengan berbagai macam keadaan yang menderita. Setiap pengawal maupun dayang yang sakit, maka dia harus diganti. Semua pengawal dan dayangnya adalah orang yang muda dan kuat. Semua dinding istana dibuat menjadi lebih tinggi, dan setiap pintu dijaga oleh pengawal kepercayaan Raja. Dengan demikian Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodhara terus memadu cinta mereka di tiga istana super mewah itu, dan selalu dikelilingi para dayang dan para pengawal yang memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Dengan melakukan hal ini, Raja Suddhodana merasa puas dan berharap kelak Pangeran Siddhattha akan menggantikan dirinya sebagai Raja Negeri Sakka.

Pangeran Siddhattha melihat empat peristiwa

Meski dilimpahi banyak kemewahan, namun Pangeran Siddhattha tetap tidak puas karena hidup terpisah dari dunia luar. Maka pada suatu hari Pangeran menghadap Raja Suddhodana dan berkata:

“Ayahanda, perkenankanlah aku berjalan-jalan ke luar istana untuk melihat tata-cara kehidupan penduduk yang kelak akan kupimpin.”

Karena permohonan ini wajar, maka Raja pun mengatakan:

“Baik, anakku. Engkau boleh keluar dari istana untuk melihat para penduduk hidup di kota. Tapi aku harus membuat persiapan sehingga sesuatunya baik dan dapat menerima kedatanganmu.”

Setelah itu Raja memerintahkan kepada seluruh rakyat untuk menghias kota. Semua orang yang sakit dan lanjut usia diasingkan ke tempat tersembunyi. Setelah semua siap, Raja pun mengizinkan Pangeran untuk keluar istana. Pangeran Siddhattha keluar istana bersama dengan kuda kesayangannya yang bernama Kanthaka, dan seorang teman sekaligus kusirnya yang bernama Channa. Ia bahagia melihat kehidupan kota yang indah. Segalanya terlihat begitu menyenangkan. Namun tiba-tiba muncul seorang lanjut usia yang menghampiri mereka. Rambutnya berwarna putih, kulitnya kering dan berkeriput, matanya sudah hampir buta, badannya kurus, pakaiannya compang-camping, giginya sudah ompong, dan ia pun berjalan dengan badan terbungkuk dan kelihatan lemah sekali. Orang tua itu meminta makan pada Pangeran. Namun karena Pangeran sangat tercengang, maka Pangeran tidak bisa menjawab apa-apa. Ketika orang tua itu pergi, Pangeran bertanya kepada Channa:

“Siapa itu, Channa? Dia pasti bukan manusia! Mengapa ia bungkuk sekali? Mengapa badannya kurus dan gemetaran? Kenapa semua rambutnya putih, dan bukan hitam seperti kita? Ada apa dengan matanya? Dan kemana semua giginya? Jika benar dia seorang manusia, apa ada orang yang terlahir dalam keadaan seperti tu?”

Channa pun menjawab :

“Saat masih muda, keadaan orang itu sama seperti kita. Namun karena ia sudah tua sekali, maka kedaannya berubah menjadi seperti apa yang Tuanku lihat tadi. Sebaiknya Tuanku melupakannya saja, karena semua orang pasti akan menjadi tua. Hal itu tidak dapat dielakkan.”

Pangeran tertegun mendengar jawaban dari Channa. Mereka kemudian kembali ke istana. Di istana, Pangeran kemudian merenungkan hal ini dengan saksama. Ia tidak dapat menerima kenyataan hidup bahwa semua orang, tanpa memandang status maupun latar belakang, pastilah akan menjadi tua. Malam itu ternyata diadakan sebuah pesta besar di istana. Namun Pangeran tampak terdiam dan memandang ke arah para penari yang cantik sambil berkata dalam hatinya:

“Suatu saat kalian semua akan menjadi tua dan kecantikanmu semua akan memudar…”

Setelah pesta usai, Pangeran masuk ke kamar, dan pikiran itu masih melekat dalam dirinya. Di sana Pangeran terus membayangkan bahwa semua orang akan menjadi tua, dan menjadi buruk rupa. Usia tua, mungkin adalah hal yang biasa bagi kebanyakan orang. Namun bagi Pangeran Siddhattha, kondisi ini sangatlah mengerikan. Setelah persoalan ini diketahui Raja Suddhodana, Raja menjadi cemas. Ia kemudian lebih sering mengadakan pesta besar dan selalu mengirimkan dayang-dayang cantik untuk menghibur Pangeran Siddhattha.

Beberapa hari kemudian, Pangeran Siddhattha kembali memohon kepada Raja Suddhodana agar diperkenankan melihat-lihat lagi kota Kapilavatthu, namun kali ini tanpa terlebih dahulu mengumumkan hal ini pada penduduk. Raja mengizinkannya dengan berat hati, karena dia tahu sudah tidak ada gunanya lagi untuk melarang Pangeran. Pangeran Siddhattha dan Channa pergi dengan berpakaian ala bangsawan agar tidak dikenal oleh penduduk sewaktu berada di kota. Hari itu pemandangan kota berbeda dari sebelumnya. Tidak ada orang-orang yang mengelu-elukan Pangeran Siddhattha, tidak ada bendera-bendera, bunga-bunga, dan lainnya. Semua penduduk berpakaian biasa-biasa saja, dan tidak banyak yang memakai pakaian yang bagus. Pangeran melihat semua orang sedang sibuk bekerja. Ada seorang pandai besi yang tubuhnya berkeringat karena sedang membuat pisau. Ada orang yang sedang mencelup pakaian sehingga menghasilkan kain yang beraneka warna. Ada tukang kue yang sedang membuat kue, hingga ada seorang penjual daging. Tiba-tiba Pangeran dikejutkan dengan seorang yang sedang merintih-rintih sambil bergulingan di tanah. Tangan orang itu terus memegangi perutnya. Di muka dan sekitar badannya terdapat bercak-bercak berwarna ungu. Matanya lesu dan nafasnya terputus-putus. Untuk kedua kalinya, Pangeran Siddhattha melihat hal yang membuat hatinya sedih.

Pangeran menghampiri orang itu, meletakkan kepala orang itu di pangkuannya, kemudian bertanya dengan suara yang menghibur:

“Apa yang terjadi padamu? Mengapa engkau merintih-rintih?”

Orang itu tidak sanggup menjawab dan hanya menangis tersedu-sedu. Kemudian Channa pun berkata kepada Pangeran Siddhattha:

“Tuanku, jangan sentuh orang itu lama-lama. Orang itu sakit dan darahnya beracun. Ia menderita demam pes sehingga seluruh tubuhnya terasa terbakar. Oleh karena itu dia merintih-rintih dan tidak bisa berbicara.”

“Tapi, apa ada orang yang juga menderita penyakit seperti dia?”

“Ada, dan mungkin Tuanku adalah orang selanjutnya jika Tuanku berdekatan dengannya selama ini. Mohon dengan sangat agar Tuanku meletakkannya kembali, sebab sakit pes itu sangat menular.”

“Channa, masih adakah penyakit lain selain demam pes ini?”

“Ada, Tuanku. Ada ratusan penyakit lain yang bahkan lebih hebat dari sakit pes.”

“Apakah tidak ada orang yang dapat menolongnya? Apakah semua orang dapat terserang penyakit? Apakah penyakit datangnya secara mendadak?”

“Benar, Tuanku. Semua makhluk dapat terserang penyakit. Penyakit itu datangnya secara tak terduga. Ada penyakit yang bisa disembuhkan, namun ada beberapa penyakit yang sepertinya tidak dapat disembuhkan, Tuanku.”

Mendengar penjelasan ini, hati Pangeran menjadi sedih sekali. Maka Pangeran Siddhattha dan Channa akhirnya kembali ke istana. Di istana, Pangeran kembali merenungkan hal ini. Kejadian ini membuat Raja menjadi sedih sekali. Beberapa hari kemudian, Pangeran Siddhattha mohon kepada Raja untuk diperkenankan kembali melihat-lihat Kapilavatthu. Raja pun menyetujuinya, karena dia tidak ingin membuat Pangeran menjadi lebih sedih.

Ketika Pangeran Siddhattha dan Channa baru berjalan-jalan tidak terlalu jauh, mereka berpapasan dengan serombongan orang yang sedang menangis mengikuti sebuah usungan yang diangkat oleh empat orang. Di atas usungan itu berbaringlah seseorang yang lanjut usia. Badannya kurus sekali dan nampak menderita penyakit, namun ia tidak bergerak sama sekali. Usungan itu diletakkan di atas tumpukkan kayu dekat tepi sungai yang kemudian api pun dinyalakan. Orang itu diam saja dan tidak bergerak meskipun api telah membakar semua bagian tubuhnya.

“Channa, ada apa dengan orang itu? Mengapa orang itu berbaring di sana dan membiarkan dirinya dibakar oleh api?”

“Dia sudah tidak tahu apa-apa lagi, Tuanku. Orang itu sudah mati.”

“Mati?! Channa, jadi itu yang dinamakan mati? Kapan pastinya orang itu akan mati? Apa semua orang pasti akan mati?”

“Benar, Tuanku. Semua makhluk pasti akan mati. Kapan pastinya itu tidak dapat ditentukan, karena semua makhluk dapat mati kapan saja dan di mana saja.”

Kali ini Pangeran Siddhattha benar-benar tercengang. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya hancur ketika membayangkan semua makhluk di dunia ini pasti akan mati. Kemudian mereka kembali ke istana, dan Pangeran Siddhattha kembali merenungkan persoalan ini. Pangeran bertekad untuk mencari obat agar semua makhluk dapat menghindari usia tua, sakit dan mati.

Ketika Pangeran Siddhattha mengunjungi Kota Kapilavatthu untuk keempat kalinya, Pangeran pergi beristirahat di bawah pohon jambu. Tiba-tiba Pangeran Siddhattha melihat seorang petapa berjubah kuning datang menghampirinya. Pangeran memberi salam pada petapa itu, kemudian menanyakan kegunaan dari mangkuk yang dibawa oleh petapa itu. Petapa itu menjawab:

“Pangeran yang mulia, aku ini seorang petapa yang mengasingkan diri dari keduniawian. Aku sedang berusaha mencari obat agar semua makhluk terhindar dari usia tua, sakit dan mati. Mangkuk ini aku bawa untuk mengharapkan kemurahan hati dari orang-orang yang mempunyai rasa cinta kasih. Selain dari itu, aku tidak menginginkan benda-benda maupun hal lainnya di dunia ini yang bersifat tidak kekal dan tidak memuaskan ini.”

Pangeran kaget karena petapa ini ternyata memiliki cita-cita yang sama dengan dirinya.

“O, petapa suci, di manakah obat itu dapat ditemukan?”

“Pangeran yang mulia, aku mencari obat itu di dalam ketenangan dan kesunyian hutan-hutan yang jauh dari keramaian dunia. Sekarang maafkan aku, karena aku harus melanjutkan perjalanan. Pencerahan dan kebahagiaan bisa dicapai.”

Pangeran merasa bahagia sekali, dan berkata dalam hati:

“Aku juga harus menjadi petapa seperti dia.”


Pangeran Siddhattha melihat empat peristiwa

Ketika Pangeran sampai di depan istana, para dayang menyambutnya dan memberitahukan bahwa Putri Yasodhara kini sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Mendengar hal ini Pangeran sangat gembira. Namun sekilas kemudian wajahnya menjadi pucat. Pangeran kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata:

“Rahulajato, bandhanang jatang.”

Yang artinya :

“Satu jeratan telah terlahir, satu ikatan telah terlahir.”

Karena itulah anak Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodhara diberi nama Rahula (rahula = jerat). Dalam perjalanannya kembali ke istana, Pangeran bertemu dengan Kisa Gotami. Kisa Gotami sangat kagum pada Pangeran, dan ia pun berkata :

“Nibbuta nuna sa mata,
Nibbuta nuna so pita,
Nibbuta nuna sa nari,
Yassa yang idiso pati.”

Yang artinya :

“Tenanglah ibunya,
Tenanglah ayahnya,
Tenanglah istrinya,
Yang mempunyai suami seperti Anda.”

Hati Pangeran tergetar mendengar kata “Nibbuta” yang berarti “tenang” (padamnya semua nafsu) ini. Karena itulah Pangeran pun menghadiahkan sebuah kalung emas yang sedang dipakainya kepada Kisa Gotami.

Pangeran Siddhattha meninggalkan istana

Untuk menyambut kelahiran cucunya, Raja Suddhodana mengadakan satu pesta yang sangat mewah. Tapi Pangeran Siddhattha tampak terdiam dan tidak berbahagia. Dengan berhati-hati Pangeran pun mendekati Raja, kemudian memohon izin untuk mencari obat terhadap usia tua, sakit dan mati di pedalaman hutan. Hal ini membuat Raja menjadi marah besar. Kemudian Pangeran Siddhattha mengganti permohonannya menjadi suatu permintaan yang mustahil bisa dilakukan oleh semua orang atau pribadi manapun.

“Ayahanda, kalau aku tidak diberikan izin, maka mohon kiranya Ayahanda berkenan memberikan delapan macam anugerah kepadaku.”

“Tentu saja, anakku. Aku lebih baik turun tahta daripada tidak meluluskan permintaanmu kali ini.”

“Kalau begitu, mohon Ayahanda memberikan kepadaku :

1. Anugerah supaya tidak menjadi tua.
2. Anugerah supaya tidak menderita penyakit.
3. Anugerah supaya tidak mati.
4. Anugerah supaya Ayahanda tetap bersamaku.
5. Anugerah supaya semua wanita yang ada di istana bersama dengan semua kerabat dapat tetap bersamaku.
6. Anugerah supaya kerajaan ini tidak berubah dan tetap berjaya seperti sekarang.
7. Anugerah supaya mereka yang hadir pada pesta kelahiranku dapat memadamkan semua nafsu keinginannya.
8. Anugerah supaya aku dapat mengakhiri kelahiran, usia tua, sakit dan mati pada semua makhluk.”

Mendengar pernyataan tersebut, Raja menjadi kaget dan kecewa. Raja kemudian membujuk Pangeran Siddhattha dengan berkata:

“Anakku, usiaku sekarang sudah tua. Tunggu dan tangguhkan kepergianmu saja setelah aku mangkat.”

“Ayahanda, relakan kepergianku justru sewaktu Ayahanda masih hidup. Aku berjanji bila sudah berhasil, aku akan kembali ke Kapilavatthu untuk mempersembahkan obat yang telah kutemukan ke hadapan Ayahanda.”

Perdebatan terus berlangsung, sampai Pangeran merasa frustasi dan pergi ke kamarnya. Raja memerintahkan para dayang yang cantik untuk menyusul Pangeran dan menghiburnya, agar Pangeran dapat melupakan niatnya itu. Dayang-dayang cantik masuk ke kamar dan menghibur Pangeran Siddhattha. Karena Pangeran kelelahan, maka dia pun terlelap di kamar itu. Para dayang pun berhenti menghibur Pangeran dan ikut tertidur di kamar itu. Pada tengah malam, Pangeran terbangun dan memandang ke sekelilingnya. Pangeran melihat para dayang itu tergeletak dan tidur simpang-siur dalam berbagai posisi. Ada yang terlentang, ada yang terkelungkup, ada yang mulutnya menganga, ada yang air liurnya mengalir keluar, ada yang menggigau, dan masih banyak lagi. Pangeran merasa dirinya berada di pekuburan sehingga membuatnya merasa jijik. Karena hal itulah, maka Pangeran memutuskan untuk meninggalkan istana malam itu juga. Pangeran memanggil Channa dan menyuruhnya untuk menyiapkan Kanthaka. Pangeran kemudian pergi ke kamar Yasodhara untuk melihat anak dan istrinya sebelum pergi untuk bertapa. Yasodhara sedang tidur nyenyak dan memeluk Rahula. Wajah Rahula berpaling dan menghadap ke arah dekapan ibunya, sehingga wajahnya tidak dapat terlihat. Pangeran ingin menggeser sedikit sehingga wajah Rahula dapat terlihat. Namun hal itu diurungkan karena takut kalau Yasodhara terbangun dan rencananya bisa gagal. Pangeran Siddhattha pun berkata dalam hati:

“Biarlah malam ini aku tidak dapat melihat wajah anakku, tapi nanti setelah aku berhasil mendapatkan obat itu, aku akan datang kembali dan dengan puas melihat wajah anak dan istriku.”


Pangeran Siddhttha melihat istri dan anaknya yang sedang tertidur

Setelah itu Pangeran pun meninggalkan istana dengan menunggang Kanthaka diikuti oleh Channa yang mengikuti dari belakang sambil memegangi ekor Kanthaka. Pangeran Siddhattaha dengan mudah melewati semua penjaga pintu gerbang dan gerbang kota, karena mereka semua sedang tertidur lelap. Setelah sampai di luar perbatasan kota, Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat Kota Kapilavatthu terakhir kalinya (di tempat itu, sekarang sudah didirikan sebuah cetiya yang diberi nama Kanthakanivattana-cetiya). Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perbatasan Negeri Sakka, Koliya dan Malla hingga menyeberangi Sungai Anoma. Di sana Pangeran Siddhattha turun dari kuda, melepaskan semua jubah dan perhiasannya untuk diserahkan kepada Channa. Pangeran mencukur kumisnya, membersihkan tubuhnya dan memotong rambutnya dengan pedang, dan kemudian pedang itu dilemparkan ke atas. Rambut yang tersisa sepanjang dua anguli (dua jari), sekitar dua inchi. Rambut ini pun tetap tak bertambah panjang sampai seumur hidup Pangeran Siddhattaha. Kemudian Pangeran membawa 8 perlengkapan seorang bhikkhu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. 8 perlengkapan itu adalah jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum dan saringan air. Setelah itu Pangeran menyuruh Channa untuk kembali istana.


Pangeran Siddhattha bersama Channa dan Kanthaka kabur dari istana

“Tidak ada gunanya hamba diam terus di istana tanpa Tuanku. Perkenankanlah hamba ikut bersama Tuanku.”

“Jangan, Channa. Bawa semua pakaian dan perhiasan ini kembali dan berikan kepada Ayahanda. Sampaikan pesan kepada Ayahanda, Yasodhara, Ibunda dan semua orang untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku pasti akan menemukan obat yang dapat menghentikan usia tua, sakit dan mati. Setelah aku memperolehnya, aku akan membagikannya kepada semua makhluk di dunia ini.”

Channa memberi hormat dan mohon diri untuk kembali ke istana. Tapi Kanthaka tidak mau diajak pergi. Pangeran mendekati Kanthaka dan mengusap-usap dan menepok-nepok lehernya dengan penuh rasa kasih sayang.

“Ayolah, Kanthaka. Ikutlah pulang bersama dengan Channa. Tunggulah sampai aku berhasil menemukan obat itu. Aku pasti akan membaginya padamu.”

Kanthaka pun ikut dengan Channa, tapi baru berjalan tidak seberapa jauh, Kanthaka berhenti dan menengok ke belakang untuk melihat Pangeran terakhir kalinya. Kanthaka sedih sekali hingga air matanya pun mengalir membasahi kedua matanya. Tidak lama kemudian, Kanthaka tiba-tiba terjatuh dan meninggal dunia. Setelah meninggal dunia, Kanthaka pun terlahir di Alam Dewa Tusita.

Mengetahui bahwa Pangeran Siddhattha, Channa dan Kanthaka menghilang dari istana, Raja Suddhodana mengutus semua pengawal pergi mencari mereka. Kemudian ada sekelompok pengawal yang bertemu dengan Channa yang sedang berjalan sendirian. Mereka membawa Channa pulang ke istana, dan kemudian Channa menceritakan semuanya kepada Raja Suddhodana, Ratu Pajapai Gotami, Putri Yasodhara dan seluruh anggota kerajaan.

Channa menyerahkan semua peninggalan Pangeran Siddhattha kepada Raja Suddhodana dan menyampaikan salam perpisahannya kepada Ratu Pajapati, Yasodhara dan seluruh anggota kerajaan. Channa juga memberitahukan bahwa saat ini Pangeran Siddhattha sedang berada di tepi Sungai Anoma di Negeri Malla. Meskipun Raja sangat kecewa, namun ia tahu bahwa kepergian Pangeran Siddhattha ini sesuai dengan ramalan dari Petapa Asita dan Kondanna. Kini Raja hanya bisa berharap-harap cemas agar Pangeran dapat berhasil menjadi Buddha. Sejak saat itu, Raja menyuruh orang kepercayaannya untuk mengikuti dan melaporkan setiap hal yang dikerjakan oleh Pangeran Siddhattha.


Pangeran Siddhattha memotong rambutnya sebagai tanda pelepasan duniawi

Bertapa di Hutan Uruvela

Dari tepi Sungai Anoma, Pangeran Siddhattha lalu pergi ke kebun mangga di Anupiya dan berdiam di sana sampai tujuh hari. Suatu pagi Pangeran berjalan ke arah Rajagaha untuk pindapata (berjalan dengan mangkuk dan menerima pemberian makanan dari para penduduk). Di sana Pangeran (Petapa Gotama) menolong sekawanan domba-domba yang akan disembelih oleh satu kelompok aliran kepercayaan di Pandavapabbata. Pangeran lalu menjelaskan betapa hal itu adalah kesia-siaan, dan akhirnya penyembelihan domba itu pun tidak sampai terjadi. Raja Bimbisara terkesima dengan kebijaksanaan Petapa Gotama. Raja Bimbisara pun mengundang Petapa Gotama untuk tinggal di kerajaannya dan membabarkan ajarannya kepada banyak orang. Tetapi Petapa Gotama menolaknya dan menjawab:

“Terima kasih banyak, Baginda. Aku sangat mencintai orang tuaku, istriku, anakku, Anda sendiri, dan semua makhluk di dunia ini. Aku belum mencapai Pencerahan Sempurna. Aku hendak mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit dan mati. Karena itulah aku masih ingin melanjutkan perjalananku.”

Raja Bimbisara kemudian menjawab:

“Kalau itu menjadi keputusanmu, aku juga tidak akan memaksa. Tapi berjanjilah bila Anda sudah mendapatkan obat itu, maka jangan lupa untuk mengunjungi Rajagaha kembali.”

Dan Petapa Siddhattha mengiyakan permintaan Raja Bimbisara itu:

“Baiklah, Baginda, aku berjanji.”

Dari Rajagaha, Petapa Siddhattha meneruskan perjalanannya dan sampai di tempat Petapa Alara Kalama. Di tempat ini Petapa Gotama berguru pada Petapa Alara Kalama. Petapa Gotama diajari tentang cara-cara bermeditasi dan pengertian tentang Hukum Kamma dan konsep Tumimbal Lahir (proses penerusan kehidupan). Dalam waktu yang singkat, ia sudah menyamai kepandaian gurunya. Petapa Gotama merasa semua pengetahuan yang diajarkan gurunya ini masih belum bisa mengakhiri usia tua, sakit dan mati. Maka Petapa Gotama pun mohon diri dan melanjutkan pengembaraannya. Di tempat lain, Pertapa Gotama bertemu dengan Pertapa Uddaka Ramaputta dan ia pun melatih diri bersamanya. Uddaka Ramaputta terkenal sebagai petapa yang hebat di zaman itu. Di sana Petapa Gotama dan Petapa Uddaka Ramaputta mengembangkan cara bermeditasi yang paling tinggi sehingga dapat mencapai keadaan “bukan-pencerapan dan bukan bukan-pencerapan”. Dalam waktu yang singkat, Petapa Gotama berhasil mencapai tingkat kemampuan yang tinggi. Karena itu Petapa Gotama diminta untuk menjadi mitra dan membantu untuk mengajarkan semua ilmunya kepada murid-murid Uddaka Ramaputta yang banyak sekali. Karena semua pengetahuan yang ia miliki sekarang masih juga belum berhasil mengakhiri usia tua, sakit dan mati, maka Petapa Gotama pun mohon diri dan kembali meneruskan pengembaraannya.


Petapa Gotama mendapat bimbingan dari Petapa Alara Kalama

Petapa Gotama kemudian sampai di Senanigama, di Uruvela. Di tempat ini Petapa Gotama bertemu dengan 5 orang petapa lain yang bernama Bhaddiya, Vappa, Mahanama, Assaji dan Kondanna. Mereka menerapkan cara ekstrim agar dapat mengendalikan batin dan kesadaran mereka, yang mereka percaya dapat menyelami kebenaran sejati guna menemukan cara menghindari usia tua, sakit dan mati. Mereka berlima bersama Petapa Gotama berlatih dengan menyiksa diri. Petapa Gotama melaksanakan latihan dengan cara yang paling ekstrim di antara mereka semua. Petapa Gotama menjemur dirinya di bawah terik matahari pada hari siang, dan pada waktu tengah malam ia berendam di sungai dalam waktu yang sangat lama. Ia juga merapatkan giginya dan menekan kuat-kuat langit-langit mulutnya sehingga keringat mengucur di seluruh tubuhnya. Dengan sakit yang demikian hebatnya, Petapa Gotama berusaha agar batinnya tidak melekat, selalu waspada, tenang serta fokus. Setelah beberapa lama, Petapa Gotama kemudian menahan nafasnya sampai nafasnya tidak lagi keluar dari hidung atau mulut, namun keluar sedikit demi sedikt dari lubang telinga sehingga mengeluarkan suara yang mendesis. Petapa Gotama juga berpuasa dengan mengurangi makanannya dari hari ke hari, hingga hanya memakan sebutir nasi dalam waktu satu hari. Karena hal inilah maka kesehatan tubuhnya sangat memburuk. Badannya kurus sekali. Saking kurusnya, bahkan jika perut bagian depan ditekan dengan jari tangan, maka bagian punggung bawah pun akan muncul tonjolan akibat dari bagian perut depan yang ditekan tersebut. Kulit dan dagingnya sudah tersisa sedikit sekali. Ia bagaikan tengkorak hidup. Warna kulitnya berubah menjadi gelap kehitam-hitaman dan banyak rambutnya yang rontok. Ia juga tidak sanggup berdiri karena kakinya sangat lemah. Hal ini diketahui oleh orang kepercayaan Raja Suddhodana yang kemudian melaporkannya kepada Raja. Raja dan seluruh anggota istana menangisi keadaan Petapa Gotama. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap agar Petapa Gotama dapat dengan segera menjadi Buddha.


Petapa Gotama menerapkan latihan ekstrim sehingga kesehatan tubuhnya memburuk

Petapa Gotama pun berpikir jika cara yang ia terapkan sekarang adalah tidak benar. Ia merasa bahwa untuk melatih diri agar batin tidak lagi melekat dan selalu waspada pada setiap saat tidak harus dilakukan dengan cara seperti ini. Petapa Gotama pun mandi di sungai, kemudian berjalan dengan tertatih-tatih ke gubuknya untuk beristirahat. Namun ketika berjalan tidak seberapa jauh dari sungai, Petapa Gotama jatuh pingsan. Pada waktu itu ada seorang anak penggembala kambing bernama Nanda yang menemukannya. Ia kemudian memberi air susu kambing kepada Petapa Gotama sehingga dia pun menjadi siuman kembali. Petapa Gotama selalu dirawat oleh Nanda dan diberikan berbagai makanan bergizi sehingga perlahan pun kesehatannya pulih kembali. Hal ini diketahui oleh lima orang petapa yang lain. Mereka menganggap Petapa Gotama sudah gagal, maka mereka pergi meninggalkannya dan pergi ke Taman Rusa di Benares.

Saat kesehatan Petapa Gotama sudah pulih, ia kembali melakukan pertapaannya. Petapa Gotama merenungkan tentang cara-caranya selama ini, dan berusaha untuk mencari jalan yang benar agar dapat menemukan cara menghindari usia tua, sakit dan mati. Ketika ia sedang merenungkan hal ini, lewatlah serombongan penari ronggeng yang berjalan sambil berbincang-bincang. Salah satu dari penari ronggeng itu kemudian berkata:

“Kalau kecapi dipetik terlalu keras, maka talinya akan putus sehingga lagunya hilang. Kalau dipetik terlalu lemah, maka suaranya tidak akan harmonis. Orang yang dapat memainkan kecapi dengan baik adalah orang yang dapat memetik kecapi dengan tepat, sehingga lagunya harmonis.”


Petapa Gotama mendapat inspirasi setelah mendengar pembicaraan serombongan penari ronggeng

Mendengar ucapan salah satu penari ronggeng itu, Petapa Gotama mendapatkan pencerahan situasional. Ia kemudian menemukan jalan yang akan diterapkan guna mencapai Penerangan Agung atau Pencerhana Sempurna. Kemudian Petapa Gotama pun menggunakan jalan tengah yang ia temukan untuk mencapai Pencerahan Sempurna itu.

Di dekat tempat itu tinggallah seorang wanita muda kaya-raya yang bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya untuk mendapatkan anak laki-laki dapat tercapai. Hari itu Sujata mengutus pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon tersebut. Sujata pun kaget ketika pelayannya datang kembali dengan tergesa-gesa dengan memberitahukan bahwa dewa pohon itu saat ini muncul. Mendengar hal ini Sujata gembira sekali. Sujata dengan menggendong bayinya kemudian bersama pelayan-pelayannya membawa berbagai masakan yang lezat untuk pergi ke tempat pohon itu. Sujata melihat dewa pohon itu sedang bermeditasi dan kelihatannya sangat agung. Ia tidak tahu bahwa orang yang dia anggap sebagai dewa pohon itu adalah Petapa Gotama. Kemudian Sujata dengan hati-hati mempersembahkan semua makanan kepada Petapa Gotama, yang dikiranya sebagai dewa pohon. Petapa Gotama menerima persembahan itu, dan setelah habis menyantapnya ia pun bertanya:

“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”

“Tuanku yang agung, makanan ini aku persembahkan sebagai ucapan terima kasihku karena Tuanku telah mengabulkan permohonanku untuk mendapatkan anak laki-laki.”

Kemudian Pertapa Gotama menengok ke arah bayi itu dan meletakkan tangannya di dahi bayi itu. Petapa Gotama pun berkata:

“Semoga hidupmu selalu diliputi berkah dan keberuntungan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi seorang petapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada semua makhluk yang berada dalam jalan kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat aku akan memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini, persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itulah, maka engkau pasti akan mendapatkan berkah yang sangat besar akibat persembahanmu ini. Tetapi, adikku yang baik, apakah engkau sekarang bahagia dan semua kehidupanmu sudah terpuaskan dari segala sisinya?”

“Tuanku yang agung, aku tidak menuntut banyak di kehidupan ini. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk Bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah puas dapat hidup bersama dengan suamiku dan membesarkan anak ini. Setiap hari dengan senang aku mengurusi semua pekerjaan rumah tangga, memberi sesajen kepada para dewata, serta tidak lupa kami sekeluarga selalu berbuat baik dan menolong orang yang memang membutuhkan pertolongan. Kami sekeluarga tahu bahwa keberuntungan selalu datang dari perbuatan baik, dan kemalangan selalu datang dari perbuatan jahat. Oleh karena itulah, apa yang musti kami sekeluarga takuti meski tiba saatnya kematian datang nanti?”

“Kau sudah memberikan penjelasan sederhana yang mengandung saripati kebajikan sangat tinggi di dalamnya. Meski kau tidak mempelajari semua segi dunia ini, namun kau dan sekeluargamu tahu jalan kebenaran dan menyebarkan keharuman sampai ke semua pelosok. Sebagaimana engkau sudah mendapatkan kepuasan, maka semoga aku pun juga akan mendapatkan apa yang aku cari.”

“Semoga Tuanku yang agung berhasil mencapai apa yang Tuanku cari selama ini.”

Petapa Gotama pun melanjutkan perjalanannya dengan membawa mangkuk kosong. Di tepi sungai Neranjara, Petapa Gotama mengucapkan tekadnya (adhitthana) dalam hati:

“Jika memang jalan yang aku jalani ini benar dan akan membawaku pada Pencerahan Sempurna, biarlah mangkuk ini mengalir melawan arus sungai.”

Satu keajaiban pun terjadi, karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus. Hal ini membuat Petapa Gotama mendapatkan semangat baru dan kepercayaan yang sangat tinggi.


Petapa Gotama menerima persembahan makanan dari Sujata

Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna (Penerangan Agung)Petapa Gotama melanjutkan perjalanannya, dan pada sore hari akhirnya ia tiba di Gaya. Ia memilih untuk bermeditasi di bawah Pohon Bodhi. Kemudian ia menyiapkan tempat di sebelah timur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari pemotong rumput bernama Sotthiya. Ia kemudian bertekad dan berkata dalam hati:

“Dengan disaksikan oleh Bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Pencerahan Sempurna dan merealisasi Nibbana.”


Sotthiya mempersembahkan rumput kering untuk digunakan sebagai alas bermeditasi bagi Petapa Gotama

Kemudian Petapa Gotama melaksanakan meditasi anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan objek keluar-masuknya nafas. Tidak lama kemudian, semua pikiran-pikiran yang tidak baik mengganggu batinnya. Muncullah semua pikiran akan keinginan pada benda-benda dan hal-hal duniawi yang dapat memuaskan nafsu, tidak menyukai penghidupan yang suci dan bersih, perasaan lapar dan haus yang luar biasa, rasa malas dan ketidakinginan berbuat apa-apa, rasa kantuk yang berat, takut terhadap makhluk-makhluk halus dan gangguan dari hewan-hewan di hutan, gelisah, goyah saat merasakan perubahan kondisi dan cuaca di lingkungan hutan, keragu-raguan terhadap Dhamma, kebodohan (ketidaktahuan), keras kepala, keserakahan, keinginan untuk dipuji dan kesombongan serta memandang rendah orang lain. Semua pikiran tidak baik itu mucul bersama dan datang silih-berganti. Dengan ketenangan dan kesabaran yang luar biasa, Petapa Gotama berusaha agar tidak terhanyut dalam pikiran tersebut. Namun ia berusaha tetap memandangnya dengan kesadaran penuh sebagai sesuatu yang muncul dan lenyap karena ada sebab dan akibat di dalamnya. Petapa Gotama terus menyelami semua gejolak ini. Petapa Gotama pun memberantas sikap-sikap tidak baik yang merintangi Pembebasan, yaitu:
o   Kerinduan terhadap duniawi (Kamachanda-Nivarana)
o   Itikad- itikad jahat (Vyapada-Nivarana)
o   Kemalasan dan kelambanan (Thinamiddha-Nivarana)
o   Kegelisahan dan kekhawatiran (Uddhacca-Kukkucca-Nivarana)
o   Keragu-raguan (Vicikiccha-Nivarana)

Ketika Petapa Gotama berhasil menyingkirkan kelima rintangan ini, maka timbullah kegembiraan. Karena gembira maka timbullah kegiuran (piti). Karena batin tergiur, maka seluruh tubuh terasa nyaman, kemudian Petapa Gotama merasa bahagia. Karena bahagia maka pikirannya menjadi terpusat. Lalu setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka Petapa Gotama masuk dan berdiam dalam jhana pertama; suatu keadaan batin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai vitakka (pengarah pikiran pada objek) dan vicara (mempertahankan pikiran pada objek). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, dan diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari “kebebasan”. Setelah membebaskan diri dari vitakka dan vicara, Petapa Gotama memasuki dan berdiam dalam jhana kedua; yaitu keadaan batin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan vitakka dan vicara, keadaan batin yang memusat. Semua bagian dari tubuhnya diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari “konsetrasi”. Petapa Gotama telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, lalu berdiam dalam keadaan yang seimbang dan disertai dengan perhatian murni dan kewaspadaan yang jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh Para Arya sebagai “kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang batinnya seimbang dan penuh perhatian murni”. Petapa Gotama kemudian memasuki dan berdiam dalam jhana ketiga. Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaaan bahagia yang tanpa disertai perasaan tergiur. Dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, Petapa Gotama kemudian memasuki dan berdiam dalam jhana keempat; yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian murni (sati parisuddhi). Demikian Petapa Gotama bermeditasi di sana, memenuhi seluruh tubuhnya dengan perasaan batin yang bersih dan jernih.

Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Maka Petapa Gotama pun mengerti: “Tubuhku ini mempunyai bentuk, terdiri atas 4 unsur pokok (unsur padat, cair, api dan angin), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus-menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran dan kematian; tidak memuaskan; dan karena sifatnya tidak kekal dan tidak memuaskan; maka tidak layak disebut sebagai ‘aku’ atau ‘milikku’. Begitu pula dengan kesadaran (vinnana) yang berkaitan dengannya. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan “tubuh-ciptaan-batin” (mano-maya-kaya), yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (kesaktiaan – yang dilandasi oleh kemampuan batin).

Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan dibbasota (Telinga Dewa). Dengan kemampuan-kemampuan dibbasota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, Petapa Gotama mendengarkan suara manusia dan dewa dan semua makhluk, yang jauh maupun yang dekat. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus pikirannya sendiri, Petapa Gotama pun mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain.

Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang pubbenivasanussatinana (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Petapa Gotama melihat dengan terang tentang semua kelahiran-kelahirannya terdahulu, tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun. Kejadian ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara pukul 18.00-22.00. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana) sesuai dengan tumpukan kamma mereka masing-masing. Dan dengan kemampuan dibbacakkhunana (Mata Dewa) yang jernih, melebihi mata manusia, Petapa Gotama melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berlalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul dan terlahir sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. Kejadian ini terjadi pada waktu jaga kedua pada pukul 22.00-02.00.


Petapa Gotama mengingat kehidupan-kehidupan lampaunya

Pada waktu jaga ketiga yaitu antara pukul 02.00-04.00, dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk digunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Petapa Gotama menggunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda batin (asavakkhayanana)… Petapa Gotama mengetahui sebagaimana adanya “Inilah Jalan yang menuju pada lenyapnya penderitaan”. Dengan mengetahui dan melihat demikian, maka pikirannya terbebaskan dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda pewujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan (avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya. Dan ia pun mengetahui: “Berakhirlah kelahiran kembali, terjalanilah kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan setelah ini.”

Tidak ada unsur yang melekat lagi di batinnya. Petapa Gotama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan merealisasi Nibbana. Dan dengan disaksikan oleh Bumi, Petapa Gotama pun akhirnya sukses menjadi Buddha (Yang Tercerahkan). Dengan usaha sendiri hingga akhirnya sukses mencapai Pencerahan Sempurna, dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengajarkan Dhamma kepada orang lain guna mencapai Pencerahan, maka Petapa Gotama pun disebut sebagai Sammasambuddha Gotama. Dengan wajah berseri dan batin yang sangat damai, Petapa Gotama kemudian mengeluarkan pekik kemenangan:

“Anekajati samsaram
Sandhavissam anibbissam
Gahakarakam gavesanto
Dukkha jati punappunam
Gahakaraka! Dittho’si
Punageham na kahasi
Sabba to phasuka bhagga
Gahakutam vismakhitam
Vismakharagatam cittam
Tanhanam khayamajjhaga.”

Yang artinya :

“Dengan letih Aku mencari “pembuat rumah” ini
Berlari-berputar dalam lingkaran tumimbal lahir
Menyakitkan, tumimbal lahir yang tiada akhir
Pembuat rumah! Sekarang telah Ku-ketahui
Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi
Semua atapmu telah Ku-robohkan
Semua fondasimu telah Ku-bongkar
Batin-Ku sekarang mencapai keadaan terbebas
Dan berakhirlah semua nafsu keinginan.”

Kemudian secara tiba-tiba terjadilah sebuah gempa bumi. Sebuah gempa bumi dashyat yang berlangsung dalam waktu yang singkat. Para Dewa dari berbagai alam datang dan bersuka-ria atas keberhasilan Petapa Gotama menjadi Buddha. Demikianlah Pengeran Siddhattha akhirnya berhasil menjadi Buddha pada usia 35 tahun di Bulan Vaisak pada tahun 588 SM.


Petapa Gotama mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Sammasambuddha

Tujuh minggu setelah Penerangan AgungSelama minggu pertama, Sang Buddha duduk bermeditasi di bawah Pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari semua nafsu-keinginan dan kemelekatan; sehingga batinnya menjadi sangat damai. Pada minggu kedua, Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari Pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus tanpa berkedip selama satu minggu penuh, sebagai cetusan rasa terima kasih. Selama minggu ketiga, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di atas jembatan emas yang diciptakan-Nya di udara; karena melalui Mata Dewa-Nya, Sang Buddha mengetahui bahwa banyak sekali Dewa yang masih meragukan apakah Beliau benar telah mencapai Pencerahan Sempurna. Selama minggu keempat, Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakan-Nya. Di kamar itu Sang Buddha bermeditasi dan menyelami abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu psikologi dan metafisika batin. Batin-Nya sedemikian bersih sehingga seluruh tubuh-Nya mengeluarkan kilauan cahaya biru, kuning, merah, putih dan jingga. Selama minggu kelima, Sang Buddha bermeditasi di bawah Pohon Ajapala Nigrodha (Pohon Beringin), yang letaknya tidak jauh dari Pohon Bodhi. Pada minggu keenam, Sang Buddha bermeditasi di bawah Pohon Mucalinda. Karena hujan lebat turun, tiba-tiba datanglah seekor ular kobra yang besar sekali dan melilitkan badannya tujuh kali memutari dan memayungi Sang Buddha dengan kepalanya. Ketika hujan berhenti, ular kobra itu berubah menjadi seorang anak muda. Kemudian Sang Buddha berkata:

“Berbahagialah mereka yang bisa merasa puas. Berbahagialah mereka yang bisa mendengar dan melihat kebenaran. Berbahagialah mereka yang bisa bersimpati pada makhluk-makhluk lain di dunia ini. Berbahagialah mereka yang dapat hidup dengan tidak melekat kepada apa pun dan mengatasi nafsu-keinginan. Lenyapnya “ikatan tentang keberadaan aku” merupakan berkah tertinggi.”


Sang Buddha dan ular kobra

Pada minggu ketujuh, Sang Buddha bermeditasi di bawah Pohon Rajayatana. Pada hari ke-50, dua orang pedagang lewat di dekat tempat Sang Buddha yang sedang bermeditasi pada pagi hari. Mereka bernama Tapussa dan Bhalika. Setelah berpuasa selama tujuh minggu, akhirnya Sang Buddha mendapatkan persembahan makanan dari mereka berdua yang berupa beras dan madu. Persembahan dari mereka sangat banyak. Karena sudah menjadi tradisi bagi sejak dari Para Buddha terdahulu untuk tidak menerima persembahan makanan dengan kedua tangan, maka dengan kesaktian-Nya, Sang Buddha menerima semua persembahan makanan tersebut dalam satu mangkuk. Setelah Sang Buddha selesai makan, Tapussa dan Bhalika memohon agar diterima sebagai pengikut awam. Mereka pun diterima sebagai upasaka-upasaka (orang yang mengikuti Ajaran Buddha dan masih hidup sebagai perumah tangga) pertama yang berlindung pada Dviratna (Sang Buddha dan Dhamma). Kemudian mereka meminta sesuatu benda pada Sang Buddha, agar dapat mereka bawa pulang. Sang Buddha kemudian memberikan beberapa helai rambut (kesa dhatu = relik rambut). Mereka berdua menerimanya dengan gembira, dan mereka pun mendirikan sebuah pagoda di dekat tempat tinggal mereka untuk menyimpan kesa dhatu tersebut.

Setelah Tapussa dan Bhalika pergi, Sang Buddha merenungkan apakah Dhamma yang Beliau temukan akan diajarkan kepada khalayak ramai atau tidak. Sebelum mencapai Pencerahan Sempurna, Beliau memang berkehendak untuk membagikan “obat suci” itu kepada semua makhluk di dunia. Namun Sang Buddha masih menimbang-nimbang perihal ini. sebab Dhamma itu sangat dalam dan sulit dimengerti, sehingga bisa mengakibatkan munculnya pemahaman keliru ataupun menjadi satu pembabaran yang tidak dapat diterima oleh dunia. Kemudian Sang Buddha melihat ke kolam bunga teratai yang berada di dekat-Nya. Bunga teratai itu tumbuh di kolam yang kotor, namun ia sama sekali tidak terjerat ke dalam kolam itu. Memang ada bunga teratai yang masih berada di dasar kolam, ada juga yang masih berada di permukaan air kolam, namun ada juga yang menjulang tinggi di atas permukaan air kolam. Begitu juga pada batin semua makhluk di dunia ini. Ada yang masih tenggelam di kekotoran duniawi, ada juga yang dapat melihat cahaya terang di atas permukaan kolam keduniawian, namun ada yang mampu lepas sama sekali dari semua kekotoran duniawi. Atas dasar inilah maka Sang Buddha memutuskan untuk membabarkan Ajaran-Nya kepada khalayak ramai, dan dengan bertekad bahwa Beliau baru akan Parinibbana (mangkat) setelah Ajaran-Nya diterima dan disukai khalayak ramai. Sang Buddha juga tidak ingin melakukan hal ekstrim dalam rencana pembabaran Ajaran-Nya. Beliau tidak ingin memaksa semua orang mendengarkan Dhamma. Beliau hanya akan mencari orang-orang yang memang mampu untuk mendengar, melihat dan mempraktikkan Dhamma. Hanya orang yang memiliki sedikit debu di matanya yang bisa melihat Dhamma.

Perhatian Sang Buddha pertama kali ditujukan kepada Alara Kalama. Namun karena melalui kemampuan batin-Nya, Sang Buddha mengetahui bahwa seminggu yang lalu Petapa Alara Kalama sudah meninggal dunia. Kemudian perhatian selanjutnya ditujukan kepada Uddaka Ramaputta, namun Sang Buddha juga mengetahui bahwa Petapa Uddaka Ramaputta baru saja meninggal dunia pada kemarin malam. Karena itulah Sang Buddha menujukan perhatian-Nya pada kelima orang petapa yang pernah bertapa bersama-Nya dahulu.

Sang Buddha berangkat menuju Taman Rusa Isipathana di Benares. Dalam perjalanan menuju Sungai Gaya, Sang Buddha bertemu dengan seorang Petapa Ajivaka bernama Upaka. Karena terpesona melihat keagungan Sang Buddha, Upaka pun bertanya:

“Siapakah Anda? Dan siapa guru Anda?”

Sang Buddha menjawab: “Saya adalah Orang Yang Maha Tahu, dan saya tidak mempunyai guru.”

Upaka hanya menggelengkan kepala dan kemudian pergi. Sang Buddha sendiri juga kembali meneruskan perjalanan-Nya ke Benares…

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=6525.0


Kategori:Hindu (3^~)
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: